BERSELANCAR DI MALAM MINGGU “Termakasih dan Selamat Malam… Ibu” Pada Layar Lebar
Seperti sudah disangka sebelumnya, orang Jakarta (baca: Indonesia) punya hobi terlambat datang ke sebuah acara. Seperti saat pemutaran perdana film dokumenter garapan Ivan Handoyo, “Thank You and Good Night Mother” (TYGNM) Sabtu, tanggal 25 Maret 2006 (hari pertama) dan Minggu tanggal 26 Maret 2006 (hari kedua) di Goethe Institut Menteng. Acara dua hari screening ini pun ditambah dengan musik hidup dari musisi pengisi soundtrack seperti cozy street corner, bonita, sore, the mystical awakening project dan the dying sirens. Dijadwalkan pukul 19.00 setelah pemutaran press sebelumnya, tapi baru pada jam delapan malam para tamu berkerumun di depan pintu. Bagi yang sedang menunggu untuk dibukanya pintu teater, bisa menikmati foto-foto pameran karya ivan handoyo, ernest irwandi, dan Diana kertamihardja.
Hari itu, dengan sangat menghibur, pertunjukan musik hidup oleh “The Mystical Awakening Projekt”, ‘Cozy Street Corner’ dan ‘Bonita’ menghentak panggung dan membuat siapa saja di dalamnya tercengang. Pembuka film dokumenter ini cukup spektakuler, karena baik ‘Cozy’ maupun ‘Bonita’ sanggup berbicara dengan penonton lewat musik mereka.
Pukul 21.00 kemudian lampu menjadi temaram digantikan nyala layar yang kebiruan, pertanda film akan segera dimulai. Film diawali dengan potongan-potongan gambar tragedi Tsunami di Aceh bersama suara sang sutradara yang mengawali narasinya. Gambar berpindah ke bagian barat pulau Jawa, dimana peselancar asal Bandulu dan Carita bercerita tentang kecintaanya dengan dunia surfing. Adegan ini membawa kita menyelami secara sederhana bagaimana sulitnya mengatakan ‘cinta’ lengkap dengan alasan-alasannya. Peselancar bebas ini hampir tidak bisa mendedahkan apa yang mereka rasakan, kalimat kemudian terpatah-patah dengan susunan yang berantakan, tapi sungguh bermakna. Bagi mereka, selancar adalah bagian dari nafas kehidupan, ia bukanlah pekerjaan, bukan pula suatu kebutuhan, melainkan ‘kepuasan batin’ yang lebih bersifat insani.
Penonton tidak hanya dibuat berfikir oleh kerumitan kalimat narrator dan para pemainnya, tapi dibuat terkesima oleh deretan gambar-gambar niryukti Nusantara. Pemandangan maha indah yang dimiliki kepulauan Indonesia sungguh menenangkan. Alur cerita dalam film TYGNM cenderung lambat dengan fragmen yang terpecah. Diawali dengan perkenalan diri kemudian diakhiri dengan klimaks gulungan ombak ditambah suara menderu gulungan ombak yang mematikan. Adegan ini memaksa kita untuk, sekali lagi, berfikir bahwa selancar adalah fenomena dwiakibat. Satu sisi, begitu mengasyikan di sisi lain, menyengsarakan. Akhirnya, film yang bersifat kontemplatif ini ditutup oleh alunan musik mendayu dengan pemandangan papan selancar yang mengapung beriringan tanpa penunggangnya.
Salah satu keajaiban Film TYGNM yang masygul adalah: musik pengisi. Sang sutradara betul-betul melakukan tugasnya. Memberikan jiwa dalam filmnya lewat musik-musik terpilih. Tidak ada ruang untuk kesalahan antara perpaduan gambar dan musik. Musik yang ada di dalam film ini pun dibuat dalam bentuk original soundtrack dengan pemilihan lagu oleh sutradara dan budi mulianto.
“Saya baru tahu ada tempat surfing di Banten” ujar Derry yang bersama Istri hadir di hari pertama pemutaran film TYGNM. “Dari film ini juga saya jadi tahu ada suatu daerah bernama Bandulu di daerah banten yang begitu indah dan penuh dengan para peselancar. Selama ini saya taunya Cuma Bali sama Nias aja tempat buat beselancar” menurut Hanum kemudian. Lain dengan yang Agni ungkapkan: “Bagus banget, jadi ingin buat film”, atau Windy: “Surfing itu susah enggak sih?”. Tanggapan dan ungkapan spontan yang terlontar dari para penonton di hari pertama dan kedua beragam-ragam. Antara kagum, sedih, senang, bingung, hingga terinspirasi. Ungkapan perasaan mereka-mereka inilah yang menjadikan TYGNM memiliki nilai di hati dan khasanah penontonnya.
“Kami membuatnya dalam waktu, minimal, dua tahun, dengan pengorbanan yang tidak sedikit” kata Diana Kertamihardja, Produser film TYGNM. Dalam kapasitasnya sebagai produser, ia mampu mengintegrasikan aspek-aspek teknis dan non teknis selama produksi berlangsung hingga terlaksana pemutaran perdana TYGNM itu. “Kesulitan terberat adalah saat memperkenalkan konsep idealis ini kepada khalayak bisnis saat kami mencari sponsor. Sampai sekarang sambutannya masih cenderung rendah dari pihak pemegang dana, tapi kami harus terus maju!” Diana mengatakannya dengan semangat.
Film berdurasi 64 menit ini tidak menutup kemungkinan bisa dijadikan barometer kemajuan dunia film sekaligus dunia olahraga selancar di Indonesia. Tapi yang pasti film TYGNM adalah investasi bernilai bagi khasanah Budaya Nusantara. Dengan kembali kepada diam, terimakasih dan selamat tidur… Ibu.
Gandrasta Bangko
   
 | awesome.. i will be going to jakarta ap21 for one night.. is it possible for me to get the copy? belum liat euy and it seems like all good review i've read so far! |
 | banyak juga kritik2... kok, me-intepretasikan film memang paling rumit dan subjektifitas selalu hadir... dengan beragam opini :) kabarin ya kalo kesini... |
 | gandrasta smpn 5 bandung??? |
| |